Kamis, 08 April 2010

“Menunggu Hasil Diskusi Para Wakil Rakyat”

Pernahkah kau dengarkan burung-burung bernyanyi ?
Pernahkah kau dengarkan dia “menangis”?
Tawa dan tangis yang kudengar, sama merdunya....,
ataukah memang aku tak tahu “senandungnya”....?



Syair tersebut merupakan cuplikan dari sebuah lagu lama yang era delapan puluhan...perhatikanlah betapa indahnya dan mulianya apa yang dilakukan sang burung. Baik tawa maupun tangisnya terdengar merdu. Hidupnya senantiasa dihabiskan hanya untuk bernyanyi “menyenangkan kita”.
Siapa diantara kita yang mampu membedakan senandung sang burung? Coba kita perhatikan kicaunya. Mampukah kita memastikan bahwa dia sedang bersuka ria ataukah sedang menangis sedih? Bagaimana kita bisa tahu? Suka ataupun duka, sedih ataupun bahagia, kicau sang burung, senantiasa terdengar indah di telinga kita. Semua terdengar indah hanya karena satu alasan. Kita tak mengenal beda senandungnya.
“Kicau” adalah anugerah besar yang dia dapatkan dari sang Maha Kuasa. Dan dia gunakan “kicau”, yang dianugerahkan sang Khaliq, untuk menghibur dan membahagiakan kita. Tak ada maksud lain. Satu-satunya yang dikerjakan sang burung adalah kemuliaan, yakni “membahagiakan” orang lain(baca:manusia). Bukankah dia senantiasa menghibur kita dengan anugerah yang dia miliki.
Bahkan, tak ada kicau yang tidak indah..Sepanjang hari kerjanya hanya menyanyi dan menyanyi. Dan itu indah.., sangat indah! Mungkin dia berharap kita menyukainya. Mungkin juga dia sudah tahu bahwa siapapun menyukai dirinya. Siapa yang tahu?
Saat ini Indonesia begitu hiruk pikuk, begitu hingar bingar. Hingga apa beda makna hiruk pikuk dan hingar bingar pun tak aku pahami... Media, politisi, ekonom, budayawan, dan tak kalah juga rakyat. Dari rakyat yang kaya, hingga rakyat yang jelata. Semuanya bicara, semuanya berkicau.
Dan, anehnya, kita pun bersedia mendengarkan semuanya. Kita bersedia menonton atau menyaksikan semuanya. Ya, semuanya. Tanpa ada jaminan kapan “kicau” diskusi mereka akan berakhir. Tanpa ada jaminan kapan “kicau” diskusi mereka akan berujung dengan membahagiakan.
Dari hari ke hari, diskusi-diskusi yang tak berujung dan tak berpangkal nyaris menyita seluruh quantita sisa waktu yang kita punya. Mulai jam empat pagi hingga jam satu dini hari. Semua elemen bergantian bicara tentang korupsi, tentang penindasan, tentang ketidakadilan, tentang penggusuran, tentang ketidaksejahteraan, dan berbagai tentang tentang yang lain. Bahkan ada yang tak mau bergantian berbicara, tak mau saling mengalah. Maunya bicara bareng-bareng. Sahut menyahut dalam satu waktu.
Banyak kawan-kawan mengatakan bahwa kejadian ini sungguh sangat memprihatinkan. Tetapi bagi para “penangkap makna kehidupan”, bukan hal yang mustahil bahwa diskusi-diskusi yang sahut menyahut itu terdengar begitu merdu, semerdu kicau burung-burung di atas pepohonan. Sehingga, kondisi seperti ini tak usahlah meningkatkan derajad stressing, tetapi anggaplah sebagai hiburan hati yang dirundung sunyi.
Layaknya penikmat kicau burung-burung, aku sendiri sebenarnya ingin sekali menangkap kejadian-kejadian pahit di negeri ini sebagai sesuatu yang merdu dan indah, layaknya “kicau burung”. Tapi ini sulit sekali. Sebab energi yang ada tak mampu melogikakan setiap kejadian dengan sebenar-benarnya.
Nyatanya memang agak berbeda. Bisakah mereka yang sedang berseteru, kita anggap sebagai burung-burung dan kita adalah penikmat senandung dari burung-burung itu?
Sepertinya memang agak kurang pas ya? Karena “burung-burung sungguhan” itu , tak pernah meminta, apalagi mengajukan rencana anggaran selama kurun waktu pengicauan.
Burung-burung sungguhan kerjanya kan hanya memberi dan memberikan keindahan, kemerduan dan kebahagiaan hati. Mungkin ketulusan dan kemuliaan sifatnya itu yang membuat “kicau”nya senantiasa terdengar begitu merdu dan indah ya? Bahkan meskipun mereka sedang menangis atau tertawa...berduka...atau berbahagia...Wallohu’alam!
Pagi kemarin, aku teringat kejadian ‘reformasi’ tahun 1998 yang lalu. Waktu itu pagi buta, usai subuh menjelang dhuha. Surabaya masih begitu sepi. Aku maklum ketika seorang abang becak masih tertidur lelap di atas becaknya. Aku sangat maklum karena kupikir mungkin sang abang becak ini sedang kecapaian. Tetapi siang hari ketika aku melewati jalan yang sama, aku menjadi tidak paham. Abang becak yang sama, tengah tertidur pulas di bawah rindangnya pepohonan tanjung, diantara hiruk pikuk lalu lalang kendaraan yang padat merambat di sepanjang jalan Mayjend Sungkono. Ia bahkan ‘mengorok’ tak tersentuh problem negara yang justru kata orang-orang adalah problem rakyat.
Begitulah Indonesia sekarang ini. Suguhan tontonan yang memprihatinkan tentang kejadian-kejadian yang ‘memedihkan’ hati dan pikiran, tentang problem negara dan tentang prolem rakyat, setiap detik dapat dengan mudah kita nikmati.
Dan abang becak yang super cuek itu aku tak tahu lagi rimbanya. Mungkin dia sedang “asyik mengorok” di bawah rindang pepohonan yang lain. Seandainya dia tahu kondisi negeri ini, dia pun pasti sedang asyik “bermimpi”, karena hidupnya tidak untuk mengejar cita-cita yang tinggi. Apapun yang ia dengar, ia mampu mengubahnya menjadi suara kicau burung-burung yang hinggap dan saling melompat di atas pepohonan.
What ever, lupakan perilaku sang abang becak yang “gila” ini, perhatikan saja kembali syair indah ini dan cobalah selami maknanya yang begitu dalam. Bersediakah anda menyanyikannya?
Pernahkah kau dengarkan burung-burung bernyanyi ?
Pernahkah kau dengarkan dia “menangis”?
Tawa dan tangis yang kudengar, sama merdunya....,
ataukah memang aku tak tahu “senandungnya”....?
Ahhh...bersenandung memang dapat menyembuhkan stressing kita sambil menunggu kemana arah diskusi sang wakil rakyat yang sedang konsentrasi menyelesaikan persoalan rakyat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar