Minggu, 04 April 2010

“...Makanya, jadi orang tua jangan gaptek dong..!” (omong atau kumur???)

“...Makanya, jadi orang tua jangan gaptek dong..!”
(omong atau kumur???)
“Sisi gelap face book”. Demikianlah sebuah topik bahasan hampir setiap media, baik televisi maupun cetak, waktu itu, usai terbongkarnya kasus nekat, “minggat” nya pasangan di bawah umur, meninggalkan orang tua dan keluarganya. Cerita apakah yang sedang terjadi pada remaja kita?

Ada pasangan remaja di bawah umur tiba-tiba saja menjadi “berani melawan” orang tua dan keluarganya demi “cinta” nya pada sang kekasih. Kekasih ini dikenalnya melalu jejaring internet yang bernama face book. Tidak sepakat dengan nasehat orang tua, maka mereka meninggalkan rumah dan berkelana tak jelas. Orang tua pun kalang kabut dan gundah gulana. Mereka melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib. Wal hasil, toh akhirnya, mereka tertangkap oleh polisi dan diserahkan kembali kepada keluarganya.
Miris memang. Tapi, demikianlah fakta hari ini tentang konsekuensi perkembangan teknologi dan globalisasi informasi. Untuk mengatasi “kepanikan” ini pun, banyak pakar-pakar baru yang tiba-tiba saja bermunculan di media, saling berlomba memberikan sumbangsih pemikiran. Sumbangsih pemikiran diberikan dengan harapan, agar kejadian semacam itu tak lagi terjadi pada keluarga-keluarga yang lain. Bagaimana caranya?
Ada satu pendapat yang menonjol. Pendapat ini disetujui oleh banyak pihak. Indikasinya adalah setiap pendapat ini diperdengarkan, di layar kaca, semua peserta diskusi menjadi “manthuk-manthuk” (mengangguk-anggukkan kepala). Pendapat ini diusulkan dalam setiap tayangan debat soal face book. Bunyinya adalah “...makanya, jadi orang tua jangan gaptek, ikuti perkembanagn anak, bila perlu pasang internet di rumah dan bila perlu ayah ibu juga punya face book...”
Pendapat tersebut tak salah, tapi jujur saja saya sangat sedih mendengar pendapat-pendapat yang demikian. Sekali lagi, bukan pendapatnya salah. Tapi pendapat seperti ini ditujukan untuk siapa? Untuk ibu yang mana? Untuk perempuan yang mana? dan untuk orang tua yang mana?
Seorang ibu muda di Jakarta, dalam opininya yang disampaikan kepada Metro TV dalam program Bedah Editorial, dengan bangga bercerita “...kalau saya, saya ikuti perkembangan anak-anak saya, saya punya face book, saya diskusikan anything setiap hari dengan anak saya tentang siapa-siapa yang menjadi teman anak saya, siapa-siapa yang hendak kenalan dengan anak saya, makanya kita sebagai orang tua jangan gaptek, kita harus mengikuti perkembangan teknologi....bla-bla-bla”. Sebelumnya, pada media yang lain juga muncul pendapat-pendapat seperti ini.
Bagi saya, pendapat seperti ini tidak lebih hanya sebuah aktivitas “kumur-kumur” dan menunjukkan sebuah perilaku kesombongan belaka. Berbicara atau kumur, bagi mereka, nyaris tak ada bedanya. Dan saya sangat malu sebagai perempuan Indonesia, mendengar perempuan yang bicara tidak pakai mikir. Seberapa paham mereka tentang jumlah ibu-ibu miskin yang ada di pedesaan, di dusun, di kaki gunung? Yang hari-harinya berkejaran dengan laju harga beras dan bahan pokok lainnya? Yang hari-harinya masih mengkonsumsi nasi aking dan ketela pohon? Sehingga, meng-akses internet adalah sebuah aktivitas yang tergolong “barang mewah” dan sebuah hal yang tak mungkin.
Lengkaplah penderitaan keluarga miskin di kampung saya, yang belum ada jaringan internet. Bahkan mereka bukan tinggal di pedesaan, tapi lebih dari itu, mereka tinggal di perdusunan. Suwarni, Suwana, Tiyem, Tuni, Rokayah, Lilik, Harni, Liasih, Warni, adalah sekian saja dari contoh representatif sejumlah ibu muda Indonesia, yang pagi-pagi sudah berangkat ke pabrik untuk bekerja sebagai buruh pabrik, yang terletak cukup jauh dari rumah tinggal mereka. Selepas menyiapkan sarapan anak-anak, anak-anak pergi sekolah, para ibu muda ini pun berangkat bekerja sebagai buruh pabrik.
Mengapa mereka harus bekerja? Karena upah sang suami tak cukup untuk menutup biaya hidup. Perempuan-perampuan ini bekerja membantu sang suami untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin lama makin sulit. Bahkan ada yang menjadi kepala keluarga karena sang suami ter PHK. Mereka bekerja agar dapat membeli beras dan membayar uang sekolah anak-anak. Lho, bukankah sudah ada BOS (bantuan operasional sekolah)? Ya, tapi tak seperti yang didengungkan, pengeluaran diluar BOS masih tak sanggup ditutup dengan penghasilan mereka. Semakin ada bantuan pemerintah, semakin kreatif orang/sekolah untuk membuat “judul baru” aktivitas yang tetap saja memerlukan pembiayaan/sumbangan para orang tua murid.
Bagaimana mungkin, perempuan-perempuan ini dapat sempat bersentuhan dengan teknologi internet? Pikiran dan sikap mereka soal pendidikan anak-anak, sangat sederhana. Mereka senantiasa berfikir positif terhadap sebuah lembahga yang bernama “sekolah”. Bahkan boleh dibilang kuno, soal anak-anak, nyaris sepenuhnya dipercayakan kepada sekolah, seperti jaman dahulu.
Ibu-ibu dusun ini, masih sangat naif. Pemikirannya masih seperti almarhum kedua orang tua saya, yakni “percaya kepada lembaga sekolah”. Lembaga yang namanya sekolah sangat dijunjung tinggi, dipercaya bahwa selama bekerja keras di “rumah”, anak-anak “aman di tangan guru-guru mereka”. Bagi perempuan-perempuan dusun saat ini, anak-anak tetap dianggap aman belajar pada laboratorium komputer di sekolah, karena mereka yakin, ada guru-guru yang bertanggung jawab. Bagi perempuan-perempuan dusun, guru-guru tetap dianggap sanggup melarang anak-anak untuk melakukan hal-hal yang buruk di warung-warung internet, di luar sekolah.
Para ibu muda dusun ini, terus menerus sibuk berkejaran dengan harga beras dan bahan pokok lain. Lantas bagaimana mungkin, mereka belajar internet? Apalagi face book? Dari mana uang buat berlangganan internet, untuk memfasilitasi kebutuhan informasi anak-anak agar mereka bisa bersaing dengan murid-murid lain di perkotaan yang notabene adalah kaum “the have”, yang nota bene_nya lagi adalah mempunyai ibu yang tidak gaptek?
Berusaha menjadi ”tak gaptek”, seperti yang dikemukakan media, psikolog dan para pakar informasi adalah “non sense” bagi Suwarni, Suwana, Tiyem, Tuni, Rokayah, Lilik, Harni, Liasih dan Warni. Dan tentu saja bagi ibu muda lain yang senasib dengan mereka, yang saya yakin tersebar meluas di seantero penjuru negeri yang namanya Indonesia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar