Sabtu, 03 April 2010

Mashita Minta Mati Sebelum Baliqh,

Mashita Minta Mati Sebelum Baliqh,

Suatu pagi, Julia kakakku, meneleponku menceritakan kepanikannya terhadap apa yang dialaminya bersama Mashita, putrinya yang masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Akhir-akhir ini, Mashita sering melamun menginginkan kematian sebelum baligh. Setelah ditanya-tanya dia mengaku. Kata guru agama di sekolahnya “anak yang meninggal sebelum baligh, tidak berdosa dan kelak dapat menolong orang tuanya, pada hari ketika semua umat diadili oleh Tuhan”. Asal muasal mengapa ibu guru agama tersebut bercerita seperti itu adalah, waktu itu salah seorang kawan sekolah Mashita, meninggal karena kecelakaan. Kemudian seperti itulah ibu gurunya bercerita bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Tuhan menjanjikan surga bagi anak-anak yang mati sebelum baligh.

Saya berfikir keras bagaimana menolong Julia yang sedang panik terhadap kondisi putrinya yang makin kerap ngelantur, berkata bahwa umurnya tak kan panjang lagi.
Yang pertama saya sarankan adalah agar dia sendiri berhenti menyesali kepergian orang tua kami. Julia sering sekali menyesali dan memutuskan sendiri bahwa dia adalah anak durhaka yang tidak “bekti” kepada orang tua. Dia terlalu sering menangis dan mengeluhkan hal ini di depan anak-anaknya.
Seorang Mashita yang masih sangat kecil tentu saja mempersepsi ini sebagai sesuatu yang teramat gawat. Ia akan mengira bahwa mamanya akan masuk neraka karena kedurhakaan kepada neneknya (seperti yang kerap disesalkan kepada anak-anaknya). Tentu saja Mashita ingin menolong mamanya agar mamanya bisa masuk surga.
Dikaitkan dengan cerita gurunya soal mati sebelum baligh, maka keterbatasan pemikiran Mashita menyederhanakan pemikirannya. Ia berharap mati sebelum baligh agar bisa menolong mamanya masuk surga bersama dia.
Saya terus terang prihatin dengan pengajaran yang seperti ini. Seharusnya sang guru memikirkan dampak dari kalimat yang dikatakannya kepada anak-anak. Hanya dua pihak yang dapat membantu menyelesaikan hal ini. Pertama, mamanya tidak boleh lagi “menyesali dan mengeluhkan segala dosa dan kesalahannya di depan anak-anak”. Sebab, anak usia dini masih sangat sensitif terhadap hal-hal yang menimpa orang tuanya. Tentu saja Mashita ingin menolong mamanya, yang hari-harinya mengaku bersalah dan berdosa kepada kakek neneknya. Sementara doktrin yang kita semua terima adalah bahwa berdosa dan durhaka kepada orang tua adalah “neraka”.
Ke dua, guru agama yang bersangkutan haruslah dikunjungi dan dimintai kesediaannya agar dapat menetralisir ceritanya supaya tak ditindaklanjuti secara salah oleh anak-anak yang belum mengerti apa-apa, seperti kasus Mashita. Sang guru harus memikirkan jalan keluar yang baik, dengan melalui cerita pula tentunya agar anak-anak dapat memahaminya secara benar.
Beberapa waktu sebelumnya, adikku Deradjad mengirim sms yang bunyinya “anakku Calysta, menuliskan kalimat di buku hariannya, “mbah, apa mbah putri baik-baik di sana? mbah bahagia kan di sana? aku kangen sama mbah putri, mbah senang ya di sana?”
Kasusnya hampir mirip. Adikku yang tinggal di Bandung ini tidak sempat ketemu ibu menjelang kepergiannya. Ibu meninggal di surabaya, seminggu sebelum lebaran tahun lalu. Sebenarnya, adikku dan keluarganya, telah mendapat tiket pulang hari kamis, sedang ibuku meninggal selasa pagi. Sehingga mereka tak sempat bertemu, karena ibu harus segera dimakamkan hari itu juga. Ia bungsu diantara kami enam bersaudara. Penyesalannya tak dapat menyaksikan saat terakhir ibunda, berlangsung terus menerus. Bahkan tak jarang kesedihan dan tangisannya berlangsung di hadapan putri kecilnya. Dalam pikiranku, tentu saja Calysta pun akan menjadi sedih menyaksikan papanya yang sedih berkepanjangan. Gadis kecil yang masih TK ini pun ingin menolong papanya dengan caranya sendiri. Ia mengirim surat kepada neneknya almarhum. Dalam suratnya kepada neneknya, ia ingin mendapat jawaban bahwa nenek/mbah putrinya baik-baik saja. Selanjutnya, kabar dari neneknya ini akan disampaikan kepada papanya agar papanya tak “menangis” lagi. Tidak bersedih dalam waktu yag berkepanjangan.
Ini adalah contoh kasus yang mengajarkan kepada kita untuk selalu dan selalu hati-hati berperilaku dan berkata-kata, apalagi di hadapan anak-anak yang masih belum dewasa. Dan ini nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar