“Ma, mas Anu gajinya satu koma, mas Anu juga satu koma, mengapa ya ma? padahal mereka sarjana...” Ini adalah kalimat yang pernah ditanyakan oleh anakku padaku. Aku menjawab pendek, “itu bukti bahwa gelar tak selamanya merupakan pertimbangan utama bagi perusahaan untuk menentukan gaji karyawannya. Ada perusahaan-perusahaan yang “smart”, yang tidak mendasarkan gaji karyawannya, semata-mata pada gelar seseorang.
Anakku lulusan SMK, dan kami mensyukurinya berkat ketekunannya dan kelenturanku menghargai pilihan-pilihannya, dia tak begitu kesulitan menetapkan “harga”nya. Bukan dimaksudkan untuk menebar kesombongan tetapi perjalananku mengalami dan mengamati dunia pendidikan formal, telah mengantarkanku untuk merenungkan kembali tentang pentingnya pendidikan formal di Indonesia. Aku makin waspada terhadap bencana-bencana yang ditimbulkan oleh “pendidikan formal”.
Sejak kecil, anakku menyukai gamewatch dan membaca komik-komik yang bergambarkan kartun seperti kabten Tsubatsa dan Doraemon. Ketika SMP, dia menyukai games yang terdapat di komputer. Aku agak gundah waktu itu, karena kupikir itu adalah permainan dan bacaan yang bermanfaat. Pikirku, “akan jadi apa dia kelak jika ia tak suka membaca?”.
Aku tak melawan kegemarannya ini secara frontal, tetapi aku berfikir keras bagaimana caranya agar dia mau belajar seperti yang lain-lain. Karena aku gemar membaca, maka disamping perpustakaan pribadi, maka di setiap sudut ruangan, kuletakkan rak-rak kecil, yang isinya adalah buku-buku fisika, matematika dll. Aku pilihkan buku-buku yang oleh pengarangnya dibuat semenarik mungkin, lengkap dengan gambar-gambarnya. Tapi sekali lagi, ini tak berhasil.
Pekerjaan anakku setiap pulang sekolah, tak lain tak tak bukan hanyalah bermain game di komputer. Jika nanti telah bosan bermain di rumah, maka ia pergi ke tempat “pak De” untuk main game bersama kawan-kawannya yang lain. Pak De adalah pemilik sewa game di kampung tempat kami tinggal pada masa itu. Pak De ini juga bukan orang yang bodoh. Ilmu pemasarannya pun jalan. Dia menjual mi goreng, mi rebus dan es pula. Pokoknya anak-anak jadi krasan. Jika lapar selama game, Pak De langsung menawari apakah anak-anak ini mau dibuatkan mi goreng ataukah mi rebus.
Untungnya, setiap hendak tidur malam, selalu kugali informasi tentang permainan apa dan apa saja yang dilakukan bersama kawan-kawannya di tempat Pak De. Dan ia pun bercerita selalu tentang apapun, kelucuan dan kejadian yang mengesankan bermain dengan kawan-kawannya yang lain.
Ketika duduk di kelas tiga SMP, sebagai ibu, wajar jika agak sedikit khawatir. Anakku tidak menyukai seluruh mata pelajaran yang diujinasionalkan. Terpaksa, aku panggilkan guru les privat untuk persiapan ujiannya. Alhamdulillah, dia lulus dengan pertolongan Tuhan. Matematikanya pun dapat angka 9. Aku heran, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?
Dia bilang, “ada keajaiban ma, kawanku yang duduk di sebelah kananku, ngasih contekan dengan jalan mendiktekan jawaban kepada kawanku yang duduk di sebelah kiriku. Jadi, ya tinggal kutulis saja, karena aku yakin pasti benar, dia kan memang pintar”. Demikian, kisahnya.
Lulus SMP, kutanya dia, kamu rencana mau masuk mana? Dia balik bertanya “lha, mama maunya apa?” Aku bilang, “terserah kamu, kan kamu yang sekolah?” Lantas dia bertanya apa beda SMK dengan SMA. Aku menjelaskan bahwa SMA itu sekolah umum, anak-anak disiapkan untuk studi lanjut ke perguruan tinggi. Aku sebutkan detail, semua mata pelajaran yang harus ditempuhnya, baik untuk jurusan IPA maupun IPS. Sementara untuk SMK, kuberitahukan bahwa SMK akan membekali dia sebuah rangkaian ilmu khusus sesuai bakat dan minat, serta dia akan menjadi lulusan yang siap kerja dengan skill yang mumpuni. Sudah kuduga, dia akan lebih tertarik dengan SMK, karena ia paling “anti belajar”. Akhirnya dia lebih tertarik SMK dan yang diambil adalah jurusan komputer multimedia.
Aku pun tak gegabah memilih SMK. Aku bantu dia mencari sekolah yang memiliki laboratorium komputer yang representatif. Sebab, tak jarang kita orang tua hanya dibodohi dan dijadikan sasaran komersialisasi saja. Ada juga sekolah yang berani membuka jurusan Teknik informatika tapi fasilitas laboratorium dan kualitas guru-gurunya tak seperti yang diharapkan.
Dia pun menikmati sekolahnya meskipun sesekali marah. Kenapa? Dia berontak menghadapi pelajaran matematika dan kimia yang diajarkan, bahkan diuji-nasionalkan. Dia menagih janji penjelasanku yang salah. Aku hanya bisa minta maaf karena memang demikian penjelasan guru dan pemerintah tentang SMA dan SMK.
Tidak ada cara lain kecuali meminta anakku bersabar. Kubujuk agar mau “nurut” sama “sekolahan” dengan segenap kurikulumnya yang konyol. Tidak ada bedanya antara SMK dengan SMA ternyata. Sekarang ini SMA tak mau kalah dengan SMK sehingga SMA pun berlomba-lomba menarik minat siswa (plus orang tua siswa) melalui mata pelajaran dan laboratorium komputer dan multimedia. Sedang SMK juga tak mau kalah, pada jurusan apapun diajarkan matematika, fisika, kimia, bahasa dll. Dengan harapan dan dengan alasan bahwa kelak jika ada anak-anak muridnya yang menginginkan test belajar di perguruan tinggi, mereka akan bisa bersaing dengan mereka-mereka yang lulusan SMA.
Sekali lagi, ini adalah kekonyolan sistem pendidikan menengah. SMA dan SMK menjadi rancu kurikulumnya.
Hari-hari menjelang UNAS, aku berjuang agar anakku mampu bersabar. Disamping menyediakan buku latihan UNAS, memangggilkan guru les privat agar dia tak kesulitan mengerjakan soal UNAS, aku yakinkan dia bahwa sebentar lagi dan tinggal sedikit lagi, dia akan terbebas.
Tidak memanggilkan guru les sama artinya dengan bunuh diri. Sebab hari-hari, dia lebih banyak fokus dengan mata pelajaran dan praktik sesuai dengan jurusannya, sedang untuk pelajaran lain tidak begitu diindahkan.
Begitu melihat pengumuman dia lulus UNAS, aku pun lega. Aku tawari dia masuk lembaga perguruan tinggi. Aku browsing di internet, website perguruan tinggi negeri yang memiliki jurusan multimedia. Ketika kubuka kurikulum, ternyata ada yang namanya matematika dan kalkulus. Aku tunjukkan padanya dan benar saja dia menolak.
Kami pun keliling mencari lembaga pendidikan non gelar, yang sesuai dengan jurusan dia, yakni multimedia. Tetapi belum genap sebulan dia keluar. Dia bilang, tak boleh gondrong meskipun pintar. Dia pun memilih bekerja. Aku tak putus asa, kuajak dia daftar S1. Namun, dia pun kecewa dengan kurikulum yang disodorkan (150 SKS). Masih saja muncul matematika dll dll. Kuminta dia bersabar untuk mencobanya. Namun, ia hanya bertahan dua minggu mencobanya, dan memutuskan mengundurkan diri.
“Kenapa lagi?”, kutanya dia. Katanya karya kawan-kawan SMK nya lebih bagus dibanding dengan karya sang dosen. Akhirnya dia fokus ambil kursus saja. Lembaga kursus yang dipilih memang bagus, tidak bertele-tele dan hasilnya bukan hanya jelas, tapi sangat jelas. Lembaga ini menyajikan rangkaian mata kursus yang benar-benar fokus dan relevan. Fokus dan hanya mengajarkan hal-hal yang relevan, bukan basa basi. Rangkaian mata kursus yang disajikan ini betul-betul saling terkait dan tidak ada yang “nyleneh”. Di sana dia diajar oleh para dosen yang mengajarkan ilmu dengan sepenuh hati, tak membebani dengan tugas-tugas yang sama sekali tak relevan. Sertifikatnya yang diberikan bahkan level internasional. Artinya, berlaku pada belahan bumi mana dia bekerja. Tanpa ujian akhir, karena keseharian progress mahasiswanya sangat diperhatikan. Hingga progressnya pun jelas. Dan sekarang, dia bisa menetapkan berapa “harga/kompensasi” bagi pekerjaan dia. Bahkan jauh di atas sarjana yang fresh graduate. Ada perpustakaan di rumah, ada buku, ada komputer dan atau sambungan internet, yang terpenting lagi, ada semangat belajar yang tinggi. Itu akan jauh lebih murah, lebih efisien dan lebih efektiv.
Ilmu memang penting. Dan Tuhan menjanjikan akan mengangkat derajad manusia yang berilmu. Namun ilmu itu sendiri, tak harus ditempuh di dalam gedung sekolahan. Bukan gedung dan gelar, akan tetapi kesanggupan bekerja secara fisik dan mental, itu yang lebih penting. Gelar? Baru Maret kemarin, Menakertrans bilang dalam web menkokesra (www.menkokesra.go.id), “sekarang ini ada 12 juta sarjana menganggur, karena produk universitas tak matching dengan kebutuhan dunia kerja”. Masih mau mengejar gelar? Jika sudah terlanjur, apa boleh buat? Siap-siaplah “terampil”. Supaya bisa bersaing. Amin!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar