Sabtu, 27 Maret 2010

Menggendong kekuasaan ala Mbah Surip

Saya bukanlah tercatat sebagai warga Surabaya namun cukup tersentak ketika di layar televisi muncul wajah Bu Risma dan Bambang DH, yang berkehendak atau dikehendaki (atau apapunlah pilihan kalimat diplomatifnya) berpasangan mencalonkan diri sebagai pasangan walikota dan wakil walikota, periode 2010-2014. Kemudian pada berita versi lain, ada usulan memasangkan Bambang dengan Saleh Mukadar lantas disusul yang lain lagi bahwa gara-gara bu Risma, PDI Perjuangan kini pecah.

Lepas dari perdebatan pecah dan tidak pecahnya PDI Perjuangan, entah kenapa setiap melihat wajah pak Bambang DH, yang terbayang selalu wajah Mbah Surip almarhum, yang “wafat” ketika lagunya yang berjudul “tak gendong”, berada pada puncak ketenarannya. Dalam masa yang bersamaan dengan meninggalnya mbah Surip, sebuah iklan balsam pijat (Mipi) yang dibintanginya, sempat tayang beberapa kali. Mbah Surip “terlihat kuat” menggendong keranjang (entah apa isinya), berkat balsam pijat yang dipercayanya bisa menjadikannya tetap kuat. Tetapi ironisnya, iklan tersebut tayang justru pada saat mbah Surip sudah “almarhum”. Tak lama kemudian, sepertinya produsen berfikir ulang. Kini, tak ada lagi wajah mbah Surip dalam iklan tersebut. Tak ada lagi mbah Surip yang (merasa kuat) menyanyikan lagu “tak gendong kemana-mana”, menawarkan kepada siapapun untuk digendong kemana-mana, padahal nafasnya sendiri tersengal-sengal.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi penggendong kekuasaan. Semuanya sah-sah saja. Makin hari kelihatan makin seru saja persaingan meraih apa yang orang bilang sebagai L1 dan L2. Bahkan, seorang kawan yang sekarang ini menjadi salah satu Camat di Surabaya (yang sebelumnya menjadi lurah), tengah bersiap-siap ikut bursa pilwali tahun 2014 nanti. Ia pun ingin menggapai L1.

“Puncak” (kekuasaan), memang begitu menarik bagi pecinta dan pe’cita’nya. Lihat saja para pendaki gunung. Apapun akan dilakukan. Bahkan badai dan suhu dingin yang bahaya pun tak jarang diterjang untuk sampai pada puncak. Meskipun, beberapa ada yang hilang, mati konyol di perjalanan, sebelum sampai di puncak.

“Ada apa di puncak sana?” Sehingga orang-orang begitu tertarik untuk pergi ke sana? Bahkan seorang Bambang DH, tak kan menolak dipasangkan dengan siapa saja. Mungkin saja ada pekerjaan yang belum selesai. Mungkin saja “wingi-wingi, durung tuntas leh nyambut gawe” selama tak genap dua periode pemerintahan.

Karir memang ada siklusnya. Jangankan karir, produk saja ada siklusnya dan bisnis juga ada siklusnya. Tetapi yang harus diingat adalah siklus itu bermula dari lembah, kemudian naik ke tengah, lantas ke puncak. Setelah sampai di puncak, tak ada jalan lain kecuali “turun”, demikian kata guru saya “begawan” ekonomi Suherman Rosyidi, dari Unair, ketika menyampaikan mata kuliah yang bertajuk bussiness cycle.

Tidak ada jalan lain kecuali “turun”. Mengapa? Kembali kepada para pendaki gunung. Mereka tidak akan selamanya tinggal di sana. Setelah menancapkan bendera atau membuat kenangan yang baik, mereka pasti turun dan kembali menjadi manusia biasa. Tidak ada para pendaki yang ingin bermukim di puncak berkepanjangan. Mengapa yang sudah susah payah mendaki gunung, terengah-engah, menghabiskan waktu, energi dan tenaga, toh kemudian harus meninggalkan sang puncak gunung? Mengapa tak ingin tinggal di sana saja? Mengapa dia harus turun? Jangan-jangan di puncak itu tak enak. Atau...enak...? Kalaupun “enak” menurut sang pendaki, sayangnya, sang puncak, secara alami tak pernah mau bersahabat dengan pendaki.

Puncak adalah milik alam dan dia tak akan membiarkan siapapun berlama-lama di sana. Jika pun para pendaki menolak, melawan dan tidak mau turun dari puncak, maka puncak pun akan mengusir dengan segala kemampuannya. Dinginnya, anginnya, badainya, saljunya, hujannya dan bahkan ketinggian sang puncak itu sendiri pasti “akan meminta” untuk turun menuju lembah.

Tidak ada cerita bahwa pendaki gunung tak kan turun kembali ke lembah, kecuali mereka “kecelakaan” dan “hilang”. Di puncak terlalu lama akan kehilangan makna. Alam tak menyukai hal ini. Maka, dia, alam pasti akan “memaksa” turun dengan “caranya”. Puncak akan menjadikan para pendaki menyadari bahwa “di puncak tidak ada apa-apa”, maka mereka akan dengan suka rela kembali ke lembah. Di puncak itu, tak ada apa-apa. Buktinya, para pendaki itu turun.

Ketika para pendaki tiba di lembah, mereka menjadi lebih “bebas”. Lembah tak kan pernah memaksa siapapun “mendaki”. Tidak seperti sang “puncak”. Ia, dengan segala kekuatan alamnya, mampu memaksa “turun” mengembalikan siapapun kepada sang lembah. Bukankah lembah menjadikan hidup jauh lebih bermakna.

Tetapi, L1 dan L2 ini adalah persoalan karir, bukan gunung? Sama saja. Di puncak karir ada “kekuasaan”. Ketika itu harus selesai, maka selesailah tugas kekuasaan. Kekuasaan tak harus digendong terus menerus. Apalagi menggendongnya dengan berjalan arah ke lembah. Letakkan saja di puncak, biarkan para pendaki yang lain mencicipi (sejenak) indahnya puncak. Dengan meletakkan gendongan yang berisi kekuasaan di puncak sana, perjalanan ke lembah pasti akan menjadi lebih ringan dan indah. Masih banyak hal penting yang harus dikerjakan di lembah. Persoalannya hanya pada kesediaan. Bersedia atau tidak. Wallohu’alam.

Selasa, 23 Maret 2010

Jawaban Presiden atas Sebuah Demo

Kemarin, 28 Januari 2010, sejarah mencatat adanya ribuan masyarakat dari berbagai elemen, ‘berdemo’ di depan istana negara Republik Indonesia. Suara yang ingin disampaikan adalah “Sby gagal memimpin dan parahnya, bukan sekedar gagal, tapi gagal total”.


Beberapa alasan ponis ini adalah kasus century yang tak kunjung usai, kriminalisasi KPK, jumlah masyarakat miskin dan pengangguran yang makin bertambah, pendidikan yang memprihatinkan, koruptor masih merajalela dan lain-lain, dan lain-lain.

Media pun berlomba menjadi penengah. Mereka menghadirkan inisiator atau penggerak demonstrasi di studio televisi dan menyambungkan pembicaraan dengan pihak yayng di demo.

Pihak yang didemo, tentu saja menyangkal meskipun dibibirnya yang manis berucap bahwa “kritik itu tak buruk adanya”.

Apa kata pihak terdemo?

“Tidak benar pemerintahan sekarang gagal total, tidak fair rasanya menilai kinerja kami dalam seratus hari, masyarakat tak mau melihat program-program kami yang berhasil, simaklah bahwa tadi pagi presiden meresmikan PLTU di Banten, lihatlah kemarin Presiden meresmikan jalan tol, lihatlah puluhan ribu desa telah berdering, lihatlah apa yang kami bangun di bidang pendidikan, internet telah menghubungkan lembaga pendidikan dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Pulau Rote, lihatlah..lihatlah..lihatlah....,

Dan yang tak kalah menghunjam kalbu, adalah sebuah pertanyaan seorang presiden kepada para mahasiswa dan seluruh elemen pendemo “Tahukah mereka program 100 hari? Pahamkah mereka program seratus hari kepemimpinan? Saya yakin mereka tak paham isinya......”.


Aku hanya bisa berucap, Innalillahi wa’innaillaihi roji’un, aku tidak tahu mana yang sombong dan keras hati diantara kedua belah pihak, siapa yang ‘aku’nya lebih tinggi diantara kedua belah pihak, siapa yang kelak berkuasa dan akan berkuasa diantara kedua belah pihak, dan siapa yang kalah kelak, diantara kedua belah pihak, siapa yang mendapat surga dan neraka diantara kedua belah pihak...

Yang aku tahu hanyalah...ketika masa akhir aku duduk di sekolah dasar (SD), dan ketika aku duduk di bangku SMP pada tahun tujuh puluh-delapan puluhan, guruku mengajariku tentang “Program Pembangunan Pemerintah yang bertajuk Pembangunan Lima Tahun/PELITA (Jangka Pendek) dan Pembangunan Jangka Panjang (PJP I dan II), serta GBHN”. Pendek kata, dulu anak-anak sekolah “tahu” dan “harus tahu” apa program pemerintah.

Apa urgensinya guru SD dan SMP ku itu, mengajarkan kepada para murid, yang bahkan sekolahnya adalah sekolah pelosok pedesaan, tentang program pembangunan pemerintah waktu itu?

Bahkan aku juga diajarkan ilmu pengetahuan yang telah dihimpun dalam sebuah buku “Himpunan pengetahuan Unum (HPU) dan Himpunan Pengetahuan Alam (HPA)”.

Isinya apa?

Subhanallah.., rahasia kekayaan negara kita, Indonesia! Dimanakah di bagian negeri ini terkandung kekayaan tambang emas, timah, batu bara, gas bumi...? Semuanya terjawab dalam HPU dan HPA.

Dan kami dipaksa menghafal waktu itu!!!! Kami bahkan tak boleh pulang meninggalkan kelas, sebelum kami bisa menjawab pertanyaan pak guru. Supaya apa? Supaya kami paham, dimana sajakah di sudut negeri ini ada kekayaan alam yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara baik-baik oleh kami, kelak sepeninggal “mereka”. Mereka memang tak berucap, tak jua berkata-kata di depan podium lengkap dengan ‘microphone’nya.

Tetapi “informasi sepenting, sedahsyat dan serahasia ini” sampai kepada kami, bahkan yang tinggal di pelosok negeri ini”.

Akan tetapi dimanakah buku-buku penting itu sekarang?

Sayang,‘Mereka’ tak lagi beredar dan terkubur entah dimana....

Apa urgensinya membuka rahasia program pemerintah (pelita dan PJP) dan HPU/HPA ini kepada anak-anak bangsa???

Entahlah!!! Coba camkan saja mengapa semua harus dirahasiakan. Mengapa semua menjadi tabu untuk diketahui oleh masyarakat luas, apalagi oleh anak-anak SD dan SMP.

Program seratus hari pun, kita hanya dikasih tahu judulnya saja “program seratus hari”.
Jika tidak menjadi sebuah rahasia, mengapa seorang presiden harus bertanya seperti ini “...tahu tidak kalian tentang program seratus hari..?, paham tidak kalian apa yang dimaksud program seratus hari?”

Apa urgensinya membuka ini kepada rakyat???

Memang tidak..., tidak ada urgensinya...tidak ada apa-apa..., silahkan saja..di ”Lanjutkan!”

Allah Maha Hakim dan Allah Maha Hakam...,
dengan berkampanye agar terpilih kembali dan menjabat kembali, itu sama saja artinya telah “meminta jabatan”. Padahal yang namanya jabatan itu “jangan pernah diminta”. Ada hadistnya, tapi menyusul...

Moga Allah menyelamatkan Indonesia dari berbagai bencana. Amin!

Kecewa “Undur – Undur” OBAMA

Minggu lalu suatu pagi, berita soal kedatangan Obama berubah lagi, diundur lagi dan diundur lagi. Entah kapan akan jadi datang. Katanya diundur Juni nanti. tetapi ini pun masih ‘katanya’.

Padahal gema penyambutannya sudahlah sangat heboh. Ada yang kontra ada pula yang pro. Hizbut Tahrir boleh berdemo menolak kedatangan pria number one in the world ini, namun dalam waktu yang bersamaan dua ormas besar Nu dan Muhammadiyah “nyumanggakaken” (menerima dengan hati dan tangan terbuka.

Media pun tak mau kalah kehilangan momen. Beberapa hari terakhir, dua stasion televisi swasta saling ‘bersaing’ merebut hati pemirsa. dua-duanya nyaris full focus on kedatangan OBAMA. Saking euphoria-nya (kalau tidak boleh dibilang ngawur), sampai-sampai berita tentang makanan kesukaan OBAMA yang mengandung kolesterol pun, minta dikomentari/ditelepon pemirsa. Seperti tak ada berita penting yang lain saja. Dan tahukan anda? Pemirsa yang sudah terlanjur telepon ke stasion TV tersebut, langsung mematikan teleponnya ketika dia “kecele”/“ketiban sampur”, harus mengomentari berita tentang “makanan kesukaan OBAMA yang mengandung kolesterol”.

OBAMA datang berkunjung. Ada yang “lebai” dalam penyambutan, ada yang “menolak” dan ada yang biasa-biasa saja. Yang saya survei adalah pendapat yang biasa-biasa saja. Pendapat ini berasal dari tukang parkir di pasar, tukang taxi, tukang cukur, tukang becak, tukang bumbu dan warga sederhana, yang hidupnya sederhana.

Ketika saya tanya pendapatnya tentang kedatangan OBAMA, jawab mereka “nggih biasa mawon..., sakpuniko ingkang penting nggih dospundi caranipun kulo lan keluargo saget urip, mekaten kemawon.. , mboten usah ditanggleti soal Obama Obama.., mundhak puyeng, mikir tumbas beras lengo mawon pun puyeng ” (ya, biasa saja, sekarang yang penting adalah kami sekeluarga bisa hidup, cukup, tidak perlu ditanya pendapat soal Obama, tambah pusing, mikir beli beras dan minyak saja sudah puyeng).

Yang salah memang saya. Pake iseng-iseng tanya mereka. Saya hanya ingin mengetahui sejauh mana mereka memiliki kepedulian terhadap persoalan atau issue-issue level nasional/internasional ini. Ternyata, jawaban mereka begitu indah di telingan saya. “Biasa-biasa saja...”. Sekarang ini, ternyata yang nomor satu adalah persoalan “perut” bagi mereka. Ini hanya sebagian saja dan saya tidak cukup keberanian untuk meng_claim, bahwa ini merepresentasikan keadaan bangsa Indonesia.

Satu-satunya hal yang mearik adalah “biasa saja”. Yah, biasa saja. Ada tamu ya disambut sebagaimana layaknya orang menyambut tamu. Tidak usah berlebihan. Kalau berlebihan nanti kecewa.

Lihatlah kekecewaan mereka-mereka yang sudah sangat siap mempersiapkan segala sesuatunya. SDN I Menteng dengan patung Obama. Murid-murid dengan puisinya, latihan-latihan kegiatan diadakan untuk “mejeng” di depan Obama, televisi-televisi mengundang dan menanyai mantan kawan Obama waktu SD tentang apa yang akan mereka katakan kepada Obama nanti jika berkesempatan bertemu dengannya, wayang pun dibuat menyambut Obama, hotel sibuk, perusahaan penerbangan sibuk, perdebatan pro kontra juga sudah sibuk menghias layar TV. Lha kok, Obama undur lagi kedatangannya. Sudah dua kali lho Obama mengundur kedatangannya! Dan sudah dua kali lho kita “kecele”!

Bagi saya, ada hal besar yang dapat dipelajari dari diundurnya kedatangan sang ‘presiden dunia’. Beritanya, sekarang ini, di USA, dewan sedang membahas peraturan dan perundangan soal kesehatan masyarakat. Mengapa harus Obama menunda kepergiannya? Sebab, Ia yang punya gagasan merasa harus bertanggungjawab atas gagasannya tersebut. Ia pun harus secara fisik hadir dalam pembahasan, karena sebagai penggagas, ia pun harus mampu menjelaskan alasan-alasan mengapa soal kesehatan bangsa memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Mengagumkan bukan? Persoalan kesehatan bangsa, persoalan kesehatan rakyat Amerika, jauh lebih penting untuk dipikirkan dan dipecahkan, dibanding berkunjung-kunjung ke luar negeri. Jika persoalan yang mendera bangsanya lebih penting untuk diselesaikan, dia memilih “menunda bepergian”. Dia lebih memilih “ada bersama rakyatnya” yang sangat ia cintai. Dia lebih memilih membantu menyelesaikan persoalan rakyatnya dulu, ketimbang urusan apapun yang ada di luar sana.

Kekecewaan akan penundaan kehadiran Obama, jelas tak dapat dipungkiri. Barangkali karena cukup banyak “biaya” yang harus dibayar atau telah dikeluarkan. Tetapi ini bukan salah siapa-siapa. Kekecewaan terjadi karena persiapan dan repon yang berlebihan. Seandainya, biasa-biasa saja, pasti tidak akan terkecewakan dan tidak akan rugi. Kerugian timbul karena, kata orang Jawa, kita sudah terlalu “gindrang-gindrang” (bersuka ria yang berlebihan) terhadap sesuatu. Apalagi sesuatu itu ‘samar’ adanya.

Seorang pengamat ekonomi yang sedang kecewa mengatakan, “Kedatangan Obama adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah berubah dan layak dipertimbangkan dalam kancah Internasional. Indonesia telah berubah. Indonesia menjadi model keberhasilan demokrasi di negara yang penduduknya mayoritas Islam (yang mana biasanya demokrasi susah diterapkan di negara-negara Islam). Jika Obama yang mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia benar-benar berubah, maka dunia akan percayai itu. Belum tentu kalau kita sendiri yang mengatakan akan dipercaya oleh dunia. Lain, jika yang mengatakan adalah Obama”.

Untuk merespon sang pengamat, cukup satu kalimat indah yang saya kutip dari kata bijak yang pernah dikemukakan oleh Margareth Tacher, “ Jika anda adalah laki-laki dan anda selalu (ingin) mengatakan kepada setiap orang bahwa anda adalah laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa anda bukanlah laki-laki”.

Setelah mengetahui alasan Obama mengundur kedatangannya ke Indonesia, saya jadi bermimpi seandainya hati dan kepedulian para petinggi di sini meneladani sikap dan kecintaan Obama terhadap rakyatnya yang menderita. Dan saya jadi membayang-bayangkan, kayak apa ya seandainya yang berkunjung ke Istana adalah orang-orang dan tukang-tukang yang tadi saya wawancarai ? Bagimana kira-kira orang istana menyambut mereka? Wallohu’alam.