Saya bukanlah tercatat sebagai warga Surabaya namun cukup tersentak ketika di layar televisi muncul wajah Bu Risma dan Bambang DH, yang berkehendak atau dikehendaki (atau apapunlah pilihan kalimat diplomatifnya) berpasangan mencalonkan diri sebagai pasangan walikota dan wakil walikota, periode 2010-2014. Kemudian pada berita versi lain, ada usulan memasangkan Bambang dengan Saleh Mukadar lantas disusul yang lain lagi bahwa gara-gara bu Risma, PDI Perjuangan kini pecah.
Lepas dari perdebatan pecah dan tidak pecahnya PDI Perjuangan, entah kenapa setiap melihat wajah pak Bambang DH, yang terbayang selalu wajah Mbah Surip almarhum, yang “wafat” ketika lagunya yang berjudul “tak gendong”, berada pada puncak ketenarannya. Dalam masa yang bersamaan dengan meninggalnya mbah Surip, sebuah iklan balsam pijat (Mipi) yang dibintanginya, sempat tayang beberapa kali. Mbah Surip “terlihat kuat” menggendong keranjang (entah apa isinya), berkat balsam pijat yang dipercayanya bisa menjadikannya tetap kuat. Tetapi ironisnya, iklan tersebut tayang justru pada saat mbah Surip sudah “almarhum”. Tak lama kemudian, sepertinya produsen berfikir ulang. Kini, tak ada lagi wajah mbah Surip dalam iklan tersebut. Tak ada lagi mbah Surip yang (merasa kuat) menyanyikan lagu “tak gendong kemana-mana”, menawarkan kepada siapapun untuk digendong kemana-mana, padahal nafasnya sendiri tersengal-sengal.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi penggendong kekuasaan. Semuanya sah-sah saja. Makin hari kelihatan makin seru saja persaingan meraih apa yang orang bilang sebagai L1 dan L2. Bahkan, seorang kawan yang sekarang ini menjadi salah satu Camat di Surabaya (yang sebelumnya menjadi lurah), tengah bersiap-siap ikut bursa pilwali tahun 2014 nanti. Ia pun ingin menggapai L1.
“Puncak” (kekuasaan), memang begitu menarik bagi pecinta dan pe’cita’nya. Lihat saja para pendaki gunung. Apapun akan dilakukan. Bahkan badai dan suhu dingin yang bahaya pun tak jarang diterjang untuk sampai pada puncak. Meskipun, beberapa ada yang hilang, mati konyol di perjalanan, sebelum sampai di puncak.
“Ada apa di puncak sana?” Sehingga orang-orang begitu tertarik untuk pergi ke sana? Bahkan seorang Bambang DH, tak kan menolak dipasangkan dengan siapa saja. Mungkin saja ada pekerjaan yang belum selesai. Mungkin saja “wingi-wingi, durung tuntas leh nyambut gawe” selama tak genap dua periode pemerintahan.
Karir memang ada siklusnya. Jangankan karir, produk saja ada siklusnya dan bisnis juga ada siklusnya. Tetapi yang harus diingat adalah siklus itu bermula dari lembah, kemudian naik ke tengah, lantas ke puncak. Setelah sampai di puncak, tak ada jalan lain kecuali “turun”, demikian kata guru saya “begawan” ekonomi Suherman Rosyidi, dari Unair, ketika menyampaikan mata kuliah yang bertajuk bussiness cycle.
Tidak ada jalan lain kecuali “turun”. Mengapa? Kembali kepada para pendaki gunung. Mereka tidak akan selamanya tinggal di sana. Setelah menancapkan bendera atau membuat kenangan yang baik, mereka pasti turun dan kembali menjadi manusia biasa. Tidak ada para pendaki yang ingin bermukim di puncak berkepanjangan. Mengapa yang sudah susah payah mendaki gunung, terengah-engah, menghabiskan waktu, energi dan tenaga, toh kemudian harus meninggalkan sang puncak gunung? Mengapa tak ingin tinggal di sana saja? Mengapa dia harus turun? Jangan-jangan di puncak itu tak enak. Atau...enak...? Kalaupun “enak” menurut sang pendaki, sayangnya, sang puncak, secara alami tak pernah mau bersahabat dengan pendaki.
Puncak adalah milik alam dan dia tak akan membiarkan siapapun berlama-lama di sana. Jika pun para pendaki menolak, melawan dan tidak mau turun dari puncak, maka puncak pun akan mengusir dengan segala kemampuannya. Dinginnya, anginnya, badainya, saljunya, hujannya dan bahkan ketinggian sang puncak itu sendiri pasti “akan meminta” untuk turun menuju lembah.
Tidak ada cerita bahwa pendaki gunung tak kan turun kembali ke lembah, kecuali mereka “kecelakaan” dan “hilang”. Di puncak terlalu lama akan kehilangan makna. Alam tak menyukai hal ini. Maka, dia, alam pasti akan “memaksa” turun dengan “caranya”. Puncak akan menjadikan para pendaki menyadari bahwa “di puncak tidak ada apa-apa”, maka mereka akan dengan suka rela kembali ke lembah. Di puncak itu, tak ada apa-apa. Buktinya, para pendaki itu turun.
Ketika para pendaki tiba di lembah, mereka menjadi lebih “bebas”. Lembah tak kan pernah memaksa siapapun “mendaki”. Tidak seperti sang “puncak”. Ia, dengan segala kekuatan alamnya, mampu memaksa “turun” mengembalikan siapapun kepada sang lembah. Bukankah lembah menjadikan hidup jauh lebih bermakna.
Tetapi, L1 dan L2 ini adalah persoalan karir, bukan gunung? Sama saja. Di puncak karir ada “kekuasaan”. Ketika itu harus selesai, maka selesailah tugas kekuasaan. Kekuasaan tak harus digendong terus menerus. Apalagi menggendongnya dengan berjalan arah ke lembah. Letakkan saja di puncak, biarkan para pendaki yang lain mencicipi (sejenak) indahnya puncak. Dengan meletakkan gendongan yang berisi kekuasaan di puncak sana, perjalanan ke lembah pasti akan menjadi lebih ringan dan indah. Masih banyak hal penting yang harus dikerjakan di lembah. Persoalannya hanya pada kesediaan. Bersedia atau tidak. Wallohu’alam.
