Selasa, 23 Maret 2010

Kecewa “Undur – Undur” OBAMA

Minggu lalu suatu pagi, berita soal kedatangan Obama berubah lagi, diundur lagi dan diundur lagi. Entah kapan akan jadi datang. Katanya diundur Juni nanti. tetapi ini pun masih ‘katanya’.

Padahal gema penyambutannya sudahlah sangat heboh. Ada yang kontra ada pula yang pro. Hizbut Tahrir boleh berdemo menolak kedatangan pria number one in the world ini, namun dalam waktu yang bersamaan dua ormas besar Nu dan Muhammadiyah “nyumanggakaken” (menerima dengan hati dan tangan terbuka.

Media pun tak mau kalah kehilangan momen. Beberapa hari terakhir, dua stasion televisi swasta saling ‘bersaing’ merebut hati pemirsa. dua-duanya nyaris full focus on kedatangan OBAMA. Saking euphoria-nya (kalau tidak boleh dibilang ngawur), sampai-sampai berita tentang makanan kesukaan OBAMA yang mengandung kolesterol pun, minta dikomentari/ditelepon pemirsa. Seperti tak ada berita penting yang lain saja. Dan tahukan anda? Pemirsa yang sudah terlanjur telepon ke stasion TV tersebut, langsung mematikan teleponnya ketika dia “kecele”/“ketiban sampur”, harus mengomentari berita tentang “makanan kesukaan OBAMA yang mengandung kolesterol”.

OBAMA datang berkunjung. Ada yang “lebai” dalam penyambutan, ada yang “menolak” dan ada yang biasa-biasa saja. Yang saya survei adalah pendapat yang biasa-biasa saja. Pendapat ini berasal dari tukang parkir di pasar, tukang taxi, tukang cukur, tukang becak, tukang bumbu dan warga sederhana, yang hidupnya sederhana.

Ketika saya tanya pendapatnya tentang kedatangan OBAMA, jawab mereka “nggih biasa mawon..., sakpuniko ingkang penting nggih dospundi caranipun kulo lan keluargo saget urip, mekaten kemawon.. , mboten usah ditanggleti soal Obama Obama.., mundhak puyeng, mikir tumbas beras lengo mawon pun puyeng ” (ya, biasa saja, sekarang yang penting adalah kami sekeluarga bisa hidup, cukup, tidak perlu ditanya pendapat soal Obama, tambah pusing, mikir beli beras dan minyak saja sudah puyeng).

Yang salah memang saya. Pake iseng-iseng tanya mereka. Saya hanya ingin mengetahui sejauh mana mereka memiliki kepedulian terhadap persoalan atau issue-issue level nasional/internasional ini. Ternyata, jawaban mereka begitu indah di telingan saya. “Biasa-biasa saja...”. Sekarang ini, ternyata yang nomor satu adalah persoalan “perut” bagi mereka. Ini hanya sebagian saja dan saya tidak cukup keberanian untuk meng_claim, bahwa ini merepresentasikan keadaan bangsa Indonesia.

Satu-satunya hal yang mearik adalah “biasa saja”. Yah, biasa saja. Ada tamu ya disambut sebagaimana layaknya orang menyambut tamu. Tidak usah berlebihan. Kalau berlebihan nanti kecewa.

Lihatlah kekecewaan mereka-mereka yang sudah sangat siap mempersiapkan segala sesuatunya. SDN I Menteng dengan patung Obama. Murid-murid dengan puisinya, latihan-latihan kegiatan diadakan untuk “mejeng” di depan Obama, televisi-televisi mengundang dan menanyai mantan kawan Obama waktu SD tentang apa yang akan mereka katakan kepada Obama nanti jika berkesempatan bertemu dengannya, wayang pun dibuat menyambut Obama, hotel sibuk, perusahaan penerbangan sibuk, perdebatan pro kontra juga sudah sibuk menghias layar TV. Lha kok, Obama undur lagi kedatangannya. Sudah dua kali lho Obama mengundur kedatangannya! Dan sudah dua kali lho kita “kecele”!

Bagi saya, ada hal besar yang dapat dipelajari dari diundurnya kedatangan sang ‘presiden dunia’. Beritanya, sekarang ini, di USA, dewan sedang membahas peraturan dan perundangan soal kesehatan masyarakat. Mengapa harus Obama menunda kepergiannya? Sebab, Ia yang punya gagasan merasa harus bertanggungjawab atas gagasannya tersebut. Ia pun harus secara fisik hadir dalam pembahasan, karena sebagai penggagas, ia pun harus mampu menjelaskan alasan-alasan mengapa soal kesehatan bangsa memiliki tingkat urgensi yang tinggi. Mengagumkan bukan? Persoalan kesehatan bangsa, persoalan kesehatan rakyat Amerika, jauh lebih penting untuk dipikirkan dan dipecahkan, dibanding berkunjung-kunjung ke luar negeri. Jika persoalan yang mendera bangsanya lebih penting untuk diselesaikan, dia memilih “menunda bepergian”. Dia lebih memilih “ada bersama rakyatnya” yang sangat ia cintai. Dia lebih memilih membantu menyelesaikan persoalan rakyatnya dulu, ketimbang urusan apapun yang ada di luar sana.

Kekecewaan akan penundaan kehadiran Obama, jelas tak dapat dipungkiri. Barangkali karena cukup banyak “biaya” yang harus dibayar atau telah dikeluarkan. Tetapi ini bukan salah siapa-siapa. Kekecewaan terjadi karena persiapan dan repon yang berlebihan. Seandainya, biasa-biasa saja, pasti tidak akan terkecewakan dan tidak akan rugi. Kerugian timbul karena, kata orang Jawa, kita sudah terlalu “gindrang-gindrang” (bersuka ria yang berlebihan) terhadap sesuatu. Apalagi sesuatu itu ‘samar’ adanya.

Seorang pengamat ekonomi yang sedang kecewa mengatakan, “Kedatangan Obama adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah berubah dan layak dipertimbangkan dalam kancah Internasional. Indonesia telah berubah. Indonesia menjadi model keberhasilan demokrasi di negara yang penduduknya mayoritas Islam (yang mana biasanya demokrasi susah diterapkan di negara-negara Islam). Jika Obama yang mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia benar-benar berubah, maka dunia akan percayai itu. Belum tentu kalau kita sendiri yang mengatakan akan dipercaya oleh dunia. Lain, jika yang mengatakan adalah Obama”.

Untuk merespon sang pengamat, cukup satu kalimat indah yang saya kutip dari kata bijak yang pernah dikemukakan oleh Margareth Tacher, “ Jika anda adalah laki-laki dan anda selalu (ingin) mengatakan kepada setiap orang bahwa anda adalah laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa anda bukanlah laki-laki”.

Setelah mengetahui alasan Obama mengundur kedatangannya ke Indonesia, saya jadi bermimpi seandainya hati dan kepedulian para petinggi di sini meneladani sikap dan kecintaan Obama terhadap rakyatnya yang menderita. Dan saya jadi membayang-bayangkan, kayak apa ya seandainya yang berkunjung ke Istana adalah orang-orang dan tukang-tukang yang tadi saya wawancarai ? Bagimana kira-kira orang istana menyambut mereka? Wallohu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar