Kemarin, 28 Januari 2010, sejarah mencatat adanya ribuan masyarakat dari berbagai elemen, ‘berdemo’ di depan istana negara Republik Indonesia. Suara yang ingin disampaikan adalah “Sby gagal memimpin dan parahnya, bukan sekedar gagal, tapi gagal total”.
Beberapa alasan ponis ini adalah kasus century yang tak kunjung usai, kriminalisasi KPK, jumlah masyarakat miskin dan pengangguran yang makin bertambah, pendidikan yang memprihatinkan, koruptor masih merajalela dan lain-lain, dan lain-lain.
Media pun berlomba menjadi penengah. Mereka menghadirkan inisiator atau penggerak demonstrasi di studio televisi dan menyambungkan pembicaraan dengan pihak yayng di demo.
Pihak yang didemo, tentu saja menyangkal meskipun dibibirnya yang manis berucap bahwa “kritik itu tak buruk adanya”.
Apa kata pihak terdemo?
“Tidak benar pemerintahan sekarang gagal total, tidak fair rasanya menilai kinerja kami dalam seratus hari, masyarakat tak mau melihat program-program kami yang berhasil, simaklah bahwa tadi pagi presiden meresmikan PLTU di Banten, lihatlah kemarin Presiden meresmikan jalan tol, lihatlah puluhan ribu desa telah berdering, lihatlah apa yang kami bangun di bidang pendidikan, internet telah menghubungkan lembaga pendidikan dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Pulau Rote, lihatlah..lihatlah..lihatlah....,
Dan yang tak kalah menghunjam kalbu, adalah sebuah pertanyaan seorang presiden kepada para mahasiswa dan seluruh elemen pendemo “Tahukah mereka program 100 hari? Pahamkah mereka program seratus hari kepemimpinan? Saya yakin mereka tak paham isinya......”.
Aku hanya bisa berucap, Innalillahi wa’innaillaihi roji’un, aku tidak tahu mana yang sombong dan keras hati diantara kedua belah pihak, siapa yang ‘aku’nya lebih tinggi diantara kedua belah pihak, siapa yang kelak berkuasa dan akan berkuasa diantara kedua belah pihak, dan siapa yang kalah kelak, diantara kedua belah pihak, siapa yang mendapat surga dan neraka diantara kedua belah pihak...
Yang aku tahu hanyalah...ketika masa akhir aku duduk di sekolah dasar (SD), dan ketika aku duduk di bangku SMP pada tahun tujuh puluh-delapan puluhan, guruku mengajariku tentang “Program Pembangunan Pemerintah yang bertajuk Pembangunan Lima Tahun/PELITA (Jangka Pendek) dan Pembangunan Jangka Panjang (PJP I dan II), serta GBHN”. Pendek kata, dulu anak-anak sekolah “tahu” dan “harus tahu” apa program pemerintah.
Apa urgensinya guru SD dan SMP ku itu, mengajarkan kepada para murid, yang bahkan sekolahnya adalah sekolah pelosok pedesaan, tentang program pembangunan pemerintah waktu itu?
Bahkan aku juga diajarkan ilmu pengetahuan yang telah dihimpun dalam sebuah buku “Himpunan pengetahuan Unum (HPU) dan Himpunan Pengetahuan Alam (HPA)”.
Isinya apa?
Subhanallah.., rahasia kekayaan negara kita, Indonesia! Dimanakah di bagian negeri ini terkandung kekayaan tambang emas, timah, batu bara, gas bumi...? Semuanya terjawab dalam HPU dan HPA.
Dan kami dipaksa menghafal waktu itu!!!! Kami bahkan tak boleh pulang meninggalkan kelas, sebelum kami bisa menjawab pertanyaan pak guru. Supaya apa? Supaya kami paham, dimana sajakah di sudut negeri ini ada kekayaan alam yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara baik-baik oleh kami, kelak sepeninggal “mereka”. Mereka memang tak berucap, tak jua berkata-kata di depan podium lengkap dengan ‘microphone’nya.
Tetapi “informasi sepenting, sedahsyat dan serahasia ini” sampai kepada kami, bahkan yang tinggal di pelosok negeri ini”.
Akan tetapi dimanakah buku-buku penting itu sekarang?
Sayang,‘Mereka’ tak lagi beredar dan terkubur entah dimana....
Apa urgensinya membuka rahasia program pemerintah (pelita dan PJP) dan HPU/HPA ini kepada anak-anak bangsa???
Entahlah!!! Coba camkan saja mengapa semua harus dirahasiakan. Mengapa semua menjadi tabu untuk diketahui oleh masyarakat luas, apalagi oleh anak-anak SD dan SMP.
Program seratus hari pun, kita hanya dikasih tahu judulnya saja “program seratus hari”.
Jika tidak menjadi sebuah rahasia, mengapa seorang presiden harus bertanya seperti ini “...tahu tidak kalian tentang program seratus hari..?, paham tidak kalian apa yang dimaksud program seratus hari?”
Apa urgensinya membuka ini kepada rakyat???
Memang tidak..., tidak ada urgensinya...tidak ada apa-apa..., silahkan saja..di ”Lanjutkan!”
Allah Maha Hakim dan Allah Maha Hakam...,
dengan berkampanye agar terpilih kembali dan menjabat kembali, itu sama saja artinya telah “meminta jabatan”. Padahal yang namanya jabatan itu “jangan pernah diminta”. Ada hadistnya, tapi menyusul...
Moga Allah menyelamatkan Indonesia dari berbagai bencana. Amin!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar